Langsung ke konten utama

Ketika Acara PKKMB Lebih Seru dari Ajaran Universitas

Ketika Acara PKKMB Lebih Seru dari Ajaran Universitas
Oleh: Ivander Jordan Leong

Teruntuk para mahasiswa baru yang akan menjadi mahasiswa lama, percayalah bahwa kalian tidak perlu membaca tulisan ini. Takutnya, kalian akan tersadarkan dan tidak lagi bisa menikmati masa-masa kuliah dengan cara yang lebih polos. Tidak masalah jika ingin lanjut membaca, saya sudah memperingatkan. Jangan takut untuk tertawa, sedih, atau bahkan mengutuk tulisan ini karena komdis tidak akan datang untuk mengambil alih.
Program Kenal Kampus Mahasiswa Baru. Itulah kepanjangan PKKMB. Tidak perlu diingat. Lagi pula, suatu saat nanti namanya akan diubah. Nasibnya akan sama seperti kata “Ospek” yang sekarang menangis karena tidak lagi sering digunakan. Bahkan mungkin kalian sendiri tidak mengetahui bahwa kepanjangan Ospek adalah Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Ah, sudah lah. Toh di banyak universitas lainnya menggunakan beragam istilah hanya untuk sebuah acara pengenalan kampus. Namanya juga Indonesia, beragam tapi tetap satu. Katanya sih. Mungkin akan lebih akrab jika saya menyebut PKKMB itu seperti sebuah MOS (Masa Orientasi Siswa) yang sudah kalian lewati semasa putih abu-abu.
Serunya PKKMB tidak mungkin terlupakan. Membuat tugas, kena marah, mendengarkan materi, nyanyi bareng, membuat formasi, melepaskan balon, atau bahkan melepaskan pacar yang jauh di sana karena kalian bertemu someone di dekat kalian. Itu parah banget sih. Kalian sungguh tidak mengerti perasaan dia yang jauh di sana. Namun, tidak masalah jika dia juga melakukan hal yang sama. Sama-sama bahagia. Skenario terburuk justru jika kalian yang ditinggalkan oleh dia dan kalian hanya bisa bernyanyi asalkan kau bahagia. Ya, begitulah PKKMB.
Kalian dipersatukan dalam sebuah kelompok, dalam sebuah fakultas, dan dalam sebuah universitas. Pada akhirnya, muncul sebuah rasa persatuan yang menjadi kebanggaan tersendiri. Ingin mengerjakan tugas bareng, arak-arakkan bareng, makan bareng, ke toilet bareng, bahkan punya pacar bareng. Kalian senang ketika mungkin fakultas atau universitas lain mengatakan bahwa kalian sangat solid, acara PKKMB kalian keren, diberitakan sampai seluruh Indonesia. Apalagi kalau ada bumbu rekor muri. Makin enak untuk dibicarakan dah. Berita akan terus menyebar, sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, PKKMB dengan segala aturan dan paksaannya telah mempersatukan kalian. Kalian pun tidak sadar. Panitia juga. Apalagi saya yang cuma nulis doang.
Sekarang, perhatikan baik-baik. Jika saat ini kalian merasa begitu solid, apakah dulu kakak tingkat kalian tidak melewati masa yang sama? Mungkin sama, tetapi, apakah mereka juga memiliki solidaritas yang tinggi? Jika memang iya, mengapa pada akhirnya tidak ada kabar tentang solidaritas tersebut? Mengapa tidak ada kabar tentang sekumpulan mahasiswa yang berhasil mengharumkan nama Indonesia walaupun mereka berbeda prodi ataupun fakultas? Apa letak kesalahannya ada pada mahasiswa-mahasiswa yang tidak bisa berprestasi? Faktanya, ada begitu banyak mahasiswa berprestasi, tetapi memilih untuk tidak berkolaborasi. Menang debat nasional, menang lomba bahasa Inggris internasional, menang membuat mobil, menang olimpiade matematika, menang mendapatkan si dia, tetapi mengapa mereka bergerak sendiri-sendiri?
Ya. Mereka menjalankan hidup yang membosankan.
Banyak orang berkata, kesalahan kembali kepada para mahasiswanya. Mungkin memang iya. Akan tetapi, sama seperti halnya PKKMB yang membuat para mahasiswa baru harus berkelompok, bukan kah universitas yang membuat sebuah lingkungan belajar menjadi kompetitif? Universitas lah yang mengajarkan kompetisi dengan embel-embel kolaborasi. Kolaborasi adalah sebuah kebohongan di sebuah universitas. Kalian harus menjadi satu-satunya orang yang mendapatkan nilai tertinggi dengan predikat lulus termuda, tercepat, terbaik, terserah lu dah. Kalian tidak diajarkan bagaimana ilmu sosiologi dalam melihat keadaan sosial para petani desa untuk kemudian berkolabirasi dengan ilmu pertanian dalam mengembangkan kesejahteraan para petani tersebut. Keadaan ini tentunya berbeda dengan PKKMB ketika kalian diajarkan untuk ada dalam sebuah kelompok dan mengerjakan tugas bersama, atau bahkan dalam sebuah kelompok besar untuk sekadar membuat formasi.
Tidak heran pada akhirnya kalian akan keluar menjadi pentolan kampus dan akhirnya mati ditelan zaman karena berusaha bergerak sendiri. Kalian buta untuk bisa mencari koneksi dan berinteraksi demi akselerasi prestasi. Belajar lah dari para pejuang negara selain para pembesar seperti Soekarno, Jendral Sudirman, dan lain-lain. Ya, mereka-mereka yang namanya mungkin tidak tertulis dalam sejarah tetapi berkontribusi bagi negara, para mahasiswa. Kerjaannya tidak banyak. Hanya berteriak sampai suara habis dan mati, atau memasang badan sampai akhirnya tertembak mati. Anehnya, ketika itu Soeharto bisa turun dari kursi, hanya karena kumpulan orang yang berani mati. Berarti, kumpulan mahasiswa yang bergerak bersama itu ada artinya. Berarti, kolaborasi itu lebih besar kekuatannya dibandingkan IPK yang cumlaude.
Akhir kata, kalian mungkin mulai mengerti. Hal mendasar yang membuat PKKMB menjadi seru bukan tugasnya, bukan kena marahnya, bukan karena ada dianya, tetapi karena kalian diwadahi dalam sebuah kelompok sehingga apapun yang kalian jalani itu menjadi seru.

Percaya lah, kuliah itu gak seru, karena kalian dipaksa bekerja sendiri. Akan tetapi, kamu bisa membuatnya menjadi seru. Caranya? Sudahlah, aku yakin kalian sudah mengetahuinya walaupun kalian sendiri gak ngerti ini tulisan apa. Ya iya lah. Aku yo ra ngerti lagi nulis apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TWIBBON SOSIOLOGI

KETERANGAN : The sociological imagination enables its prossessor to understand the larger historical scene in terms of its meaning for the inner life and the external career of a variety of individuals. -C. Wright Mills-  Hello, I'm (your name) proud to be a part of Sociology at Sebelas Maret University, and I'm ready to support PKKMB FISIP UNS 2017 "Sociology is all around you and you are all Sociology"  #KELUARGAHIMASOS #PKKMBFISIPUNS2017 #SosiologiUNS2017 Gambar 1 STEP ATAU LANGKAH2 MENGGUNAKAN TWIBBON : 1. DOWNLOAD 'Gambar 1' atau twibbon sosiologi 2. COPY PASTE 'KETERANGAN' , MASUKKAN NAMA KALIAN MASING2 DAN JANGAN LUPA JUGA HASTAG YANG SUDAH DISEDIAKAN sebagai caption di instagram 3. EDIT foto kalian (bebas) dengan 'Gambar 1' atau twibbon yang sudah didownload 4. POSTING FOTONYA KE INSTAGRAM DAN JANGAN LUPA PAKE 'KETERANGAN'  BESERTA NAMA LENGKAP KALIAN SEBAGAI CAPTION DAN HASTAGNYA. ...

Diskusi Kartini Kontemporer

Dalam Menyambut Hari Kartini Kemarin HIMASOS khususnya bidang 2 membuat seminar "Kartini Kontemporer & Pengorganisasian Gerakan Perempuan” yang membahas tentang Buku "PANDORA" Dengan Narasumber Akhmad Ramdhon (Dosen Sosiologi UNS) yang membahas tentang "Kartini Jaman Sekarang" dan Siti Harsun (Anggota FAMMI) yang membahas tentang Pengorganisasian Perempuan dan Sharing Buku Pandora