Langsung ke konten utama

Hallyu: Ancaman Globalisasi bagi Indonesia?

Fenomena globalisasi dengan segala aspeknya tidak henti-hentinya dikaji para ahli karena globalisasi merupakan suatu realita sosial yang sangat berpengaruh pada kehidupan seluruh masyarakat dunia. Beberapa ahli menganggap globalisasi sebagai proses mendunianya budaya Barat, khususnya Amerika karena kuatnya pengaruh atau peranan budaya barat dalam globalisasi sehingga mereduksi arti dari globalisasi hanya sebagai westernisasi. Para ahli pun banyak yang beranggapan bahwa proses globalisasi membawa “sinkronisasi budaya” di seluruh dunia. “Globalization introduces a single world culture centred on consumerism, mass media, Americana, and the English language” (Scholte, 2000). Pada akhirnya, menurut mereka, hanya akan ada satu budaya di dunia yaitu budaya Barat.
Namun pengertian globalisasi tersebut patut dipertanyakan setelah Korea Selatan dengan berbagai aspek budayanya muncul dengan gemilang di kancah global. Industri musik, kosmetik, teknologi, dan turisme Korea yang disebut Hallyu ini merebak dimana-mana. Dunia sempat dikejutkan oleh luasnya persebaran “virus” gangnam style di seluruh dunia. Sebuah video musik seorang penyanyi Korea bernama PSY itu berhasil memecahkan rekor dunia sebagai video YouTube dengan pemutaran dan like terbanyak, mengalahkan Justin Bieber, LMFAO, dan artis-artis Amerika lainnya. Meningkatnya popularitas Hallyu dibuktikan oleh sebuah survey yang dilakukan oleh Korean Tourism Organization dimana Hallyu tidak hanya merangkul fans dari Asia saja melainkan dari Barat: 9.253 dari Asia, 2.158 dari Eropa, 502 dari Amerika, 112 dari Afrika dan 60 dari Oceania. Hallyu pun menyokong $1.87 milyar atau 2.14 triliun won pada sektor eksport dan pariwisata pada tahun 2004 dan menyumbang $918 milyar pada kategori penjualan merchandise. Dari beberapa contoh tersebut, apakah Hallyu dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk dari fenomena globalisasi?

“Globalisasi” merupakan konsep yang sangat luas, sehingga terjadi banyak perdebatan mengenai definisi globalisasi. Scholte (2000) menyimpulkan perdebatan-perdebatan tersebut dalam 5 definisi globalisasi yaitu internationalization, liberalization, universalization, westernization atau modernization, dan deterritorialization.
Internasionalisasi mengacu pada proses meningkatnya relasi antarnegara, pertukaran internasional, dan ketergantungan antarnegara. Korea sudah memiliki hubungan interdependensi dengan Indonesia, relasinya tinggi, dan adanya pertukaran internasional. Banyak pertukaran dalam  bidang budaya, pendidikan, dan ekonomi antarkedua negara ini. Sebagai bukti nyata terjadinya pertukaran yang semakin intens Korea-Indonesia adalah dengan  adanya peningkatan  pelajar Korea di Indonesia dan sebaliknya. Pertukaran di bidang ekonomi  terjadi melalui  liberalisasi mengacu pada proses integrasi ekonomi internasional. Hal ini jelas terlihat dari peningkatan penjualan produk-produk Korea mulai dari industi kosmetik seperti Face Shop dan etude, industri mobil seperti KIA dan Hyundai, dan industri teknologi seperti SAMSUNG dan LG. Universalisasi diartikan sebagai proses tersebarnya berbagai objek dan pengalaman kepada orang di seluruh ujung dunia. Di sini terbukti bahwa budaya yang mendunia/meng-global bukan hanya budaya Barat (khususnya Amerika) tapi berbagai objek dan pengalaman negara lain seperti Korea kepada orang di seluruh dunia. Sebagai contoh  adalah  menyebarnya produk gadget Korea sehingga meraja pasar dunia. Berdasarkan Biro riset IDC, hingga akhir kuartal I-2014, Samsung masih menguasai 30,2% pasar gadget dunia mengalahkan produk Barat, Apple. Westernization atau  modernization, terutama dalam bentuk “Americanized” dilihat sebagai proses tersebarnya struktur sosial dari modernitas (kapitalisme, rasionalisme, industrialisme, birokrasi, dsb) yang pada umumnya menghancurkan budaya-budaya yang ada dan determinasi lokal. Definisi happy wheels demo ini nampaknya sangat kontras dan membatasi pengertian dari globalisasi dimana modernisasi selalu diasumsikan dari Barat. Globalisasi tidak bisa didefinisikan secara parsial hanya sebagai mengglobalnya budaya Barat, tetapi mengglobalnya suatu unsur budaya dimana budaya tersebut memiliki power ekonomi di pasar dunia. Korea sendiri saat ini menjadi negara kapitalis dan terindustrialisasi sehingga perekonomiannya meningkat. Hallyu sendiri merupakan suatu bentuk komoditas dari sistem kapitalisme Korea dan menjadi ikon untuk meningkatkan penjualan komoditas industri.  Deterritorialization dimana globalisasi dipandang sebagai rekonfigurasi geografi sehingga jarak sosial tidak lagi terbatas pada jarak, tempat, atau batas-batas territorial. Relasi Korea dan Indonesia tidak lagi dipisahkan oleh batas-batas geografis. Ini berhubungan dengan modernisasi dimana produk-produk modern menghapuskan perbedaan ruang dan waktu antarnegara sehingga memungkinkan terciptanya suatu hubungan sosial.
Sama seperti saat mengglobalnya Hollywood,  fenomena Hallyu pun berpengaruh terhadap Indonesia. Banyak yang beranggapan bahwa Hallyu dapat melemahkan nasionalisme dan identitas bangsa. Kekhawatiran ini wajar ada karena pada dasarnya, bangsa (nation) mendefinisikan dirinya melalui penekanan pada atribut kultural yang membedakan dirinya dengan orang atau bangsa lain. Atribut tersebut berhubungan dengan bahasa, adat istiadat, sensibilitas, bentuk-bentuk seni, agama, ras dan sebagainya (Scholte, 2000). Sedangkan fenomena yang dilihat sehari-hari adalah bahasa Indonesia masih kurang dihargai oleh bangsa Indonesia. Bahasa yang digunakan sehari-hari didominasi oleh bahasa daerah dan juga bahasa slank. Belakangan, malah banyak juga yang sesekali menggunakan bahasa Korea untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Karena itu, apakah merebaknya arus Hallyu ini perlu ditindaklanjuti lebih serius? Saya rasa iya, tapi bukan dengan mem-black list Hallyu.
Jan Nederveen Pieterse (2004) dalam Ritzer (2012) berpendapat bahwa masing-masing budaya memiliki perbedaan-perbedaan kekal yang sebagian besar tidak terpengaruh oleh adanya globalisasi. Bukan berarti globalisasi tidak berpengaruh sama sekali terhadap budaya suatu negara, namun globalisasi terjadi hanya di permukaannya saja. Inti budaya atau struktur budaya sebagian besar tidak terpengaruh.
Namun fenomena Hallyu tetap perlu direfleksikan sebagai suatu fenomena yang menunjukkan bahwa tidak hanya dunia Barat yang bisa mendunia, tapi juga kebudayaan Timur: termasuk Indonesia. Justru dengan adanya Hallyu ini, pemerintah harus semakin optimis untuk juga mampu mengembangkan kekayaan modal budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Bukan dengan cara mengikuti arus budaya yang sedang tenar (seperti ikut membuat boyband ala Korea versi Indonesia). Namun dengan cara mendalami identitas bangsa sendiri yang dapat dikemas dengan kreatif untuk dipertontonkan ke kancah global. Ketika pemerintah mampu menonjolkan identitas Indonesia yang membanggakan dan diapresiasi dunia, maka dengan sendirinya masyarakat Indonesia akan memiliki kepercayaan diri untuk merangkul atribut-atribut kultural bangsa sendiri dan kita tidak perlu mengkhawatirkan soal nasionalisme. Indonesia memiliki batik, wayang, sejarah, musik, cerita tradisional, dan kekayaan budaya lainnya yang masing-masing berbeda di setiap ragamnya suku yang ada di Indonesia. Betapa kayanya modal budaya kita! Hal ini menjadi semakin penting ketika mengingat sebentar lagi kita akan memasuki MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Pemerintah harus mampu menjadikannya sebagai suatu kesempatan, bukan ancaman.

sumber : Heidy Angelica dalam http://sociozine.com/kajian/hallyu-ancaman-globalisasi-bagi-indonesia/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TWIBBON SOSIOLOGI

KETERANGAN : The sociological imagination enables its prossessor to understand the larger historical scene in terms of its meaning for the inner life and the external career of a variety of individuals. -C. Wright Mills-  Hello, I'm (your name) proud to be a part of Sociology at Sebelas Maret University, and I'm ready to support PKKMB FISIP UNS 2017 "Sociology is all around you and you are all Sociology"  #KELUARGAHIMASOS #PKKMBFISIPUNS2017 #SosiologiUNS2017 Gambar 1 STEP ATAU LANGKAH2 MENGGUNAKAN TWIBBON : 1. DOWNLOAD 'Gambar 1' atau twibbon sosiologi 2. COPY PASTE 'KETERANGAN' , MASUKKAN NAMA KALIAN MASING2 DAN JANGAN LUPA JUGA HASTAG YANG SUDAH DISEDIAKAN sebagai caption di instagram 3. EDIT foto kalian (bebas) dengan 'Gambar 1' atau twibbon yang sudah didownload 4. POSTING FOTONYA KE INSTAGRAM DAN JANGAN LUPA PAKE 'KETERANGAN'  BESERTA NAMA LENGKAP KALIAN SEBAGAI CAPTION DAN HASTAGNYA. ...

Diskusi Kartini Kontemporer

Dalam Menyambut Hari Kartini Kemarin HIMASOS khususnya bidang 2 membuat seminar "Kartini Kontemporer & Pengorganisasian Gerakan Perempuan” yang membahas tentang Buku "PANDORA" Dengan Narasumber Akhmad Ramdhon (Dosen Sosiologi UNS) yang membahas tentang "Kartini Jaman Sekarang" dan Siti Harsun (Anggota FAMMI) yang membahas tentang Pengorganisasian Perempuan dan Sharing Buku Pandora

Ketika Acara PKKMB Lebih Seru dari Ajaran Universitas

Ketika Acara PKKMB Lebih Seru dari Ajaran Universitas Oleh: Ivander Jordan Leong Teruntuk para mahasiswa baru yang akan menjadi mahasiswa lama, percayalah bahwa kalian tidak perlu membaca tulisan ini. Takutnya, kalian akan tersadarkan dan tidak lagi bisa menikmati masa-masa kuliah dengan cara yang lebih polos. Tidak masalah jika ingin lanjut membaca, saya sudah memperingatkan. Jangan takut untuk tertawa, sedih, atau bahkan mengutuk tulisan ini karena komdis tidak akan datang untuk mengambil alih. Program Kenal Kampus Mahasiswa Baru. Itulah kepanjangan PKKMB. Tidak perlu diingat. Lagi pula, suatu saat nanti namanya akan diubah. Nasibnya akan sama seperti kata “Ospek” yang sekarang menangis karena tidak lagi sering digunakan. Bahkan mungkin kalian sendiri tidak mengetahui bahwa kepanjangan Ospek adalah Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Ah , sudah lah. Toh di banyak universitas lainnya menggunakan beragam istilah hanya untuk sebuah acara pengenalan kampus. Namanya juga Indon...